Senin, 17 November 2014

Tugas Mata Kuliah Character Building



Nama              : Abdul Rohman & Dewi Pujiati
Semester         : VII (Tujuh)
Mata Kuliah   : Character Building
Judul Tugas   : Kemampuan Membina

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Membina diartikan sebagai; membangun, mendirikan, mengusahakan supaya lebih baik (maju, sempurna).
Pembina adalah orang yang membina, alat untuk membina.
Pembinaan adalah proses pembuatan, cara membina.
Kemampuan membina adalah kemampuan seorang guru untuk membina dan mengembangkan bakat peserta didiknya.
Menurut Howard Gardner bahwasanya peserta didik memiliki bakat yang berbeda-beda, Gardner mengelompokan bakat menjaadi 7 kecerdasan:
Lingguistic Intellegence
Logical Matematical Intellegence
Musical Intellegence
Bodily-kinestetic Intellegence
interpersonal Intellegence
Intrapersonal Intellegence (kemampuan mengellola diri, menganggap dirinya adalah konsep hidupnya)
Naturalist Intellegence
Berdasarkan bakat diatas, maka ada beberapa hal yang harus dibina oleh seorang guru, antara lain :
Pembinaan menulis, bahasa, presenter, debat, dsb.(linguistic)
Pembinaan matematika, fisika, kimia (logis-matematik)
Paduan suara, musical (musik)
Olahraga, atletik, senam, tari (fisik)
Pembinaan latihan kepemimpinan (interpersonal)
Pembinaan menulis buku harian (Intrapersonal)
Kegiatan pencinta alam (Naturalis)
Melalui pembinaan yang intensif maka bakat siswa berkembang dengan baik. Agar sukses dalam melakukan pembinaan maka guru Pembina harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1.      Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah orang yang melihat suatu masalah dan memperbaikinnya. Pemimpin diartikan sebagai orang atau sekelompok orang yang dipercaya dapat membawa kelompok orang tertentu mencapai tujuan.
2.      Empati
Empati ita bisa turut memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, bisa memasuki hatinya, ketika orang sedang berempati seseorang mampu berbelas kasih kepada sesamanya.


3.      Komunikasi
Kommunikasi berarti bentuk interaksi antara individu atau kelompok yang dilakukan dengan cara verbal ataupun non verbal, dengan maksud untuk menyampaikan suatu pesan dengan cara yang dapat dipahami oleh orang lain.
4.      Disiplin
Disiplin diri mencakup sifat konsisten berjuang mencapai target yang sudah ditetapkan, mendahulukan hal yang utama dan memdesak tanpa mengabaikan kebutuhan lain yang juga sama-sama penting.
MENGENAL DIRI SENDIRI
Mengenal diri berarti:
Memahami kekhasan fisiknya, kepribadian, watak dan
temperamennya, mengenal bakat-bakat alamiah yang
dimilikinya serta punya gambaran atau konsep yang jelas
tentang diri sendiri dengan segala kekuatan dan
kelemahannya
Manfaat dan tujuan mengenal diri:
Seseorang dapat mengenal kenyataan dirinya, dan sekaligus
kemungkinan-kemungkinannya, serta (diharapkan
mengetahui peran apa yang harus dia mainkan untuk
mewujudkannya
Cara Mengenal Diri:
1. Melalui sejarah perkembangan diri
2. Melalui penelusuran bakat dan kepribadian
3. Melalui pengalaman sehari-hari
4. Melalui kebersamaan dengan orang lain
5. Melalui kaca mata orang lain
6. Melalui refleksi pribadi
Mengenal Bakat
A. Pengertian Bakat
1. Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang
sebagai bawaan sejak lahir. Unsur rohani ini dapat atau
tidak berkembang turut ditentukan oleh keadaan di luar
diri seseorang (lingkungan), & didukung oleh keinginan
kuat yang dimiliki oleh orang itu untuk mengembangkan
atau tidak mengembangkannya.
2. Bakat adalah suatu bentuk kemampuan khusus, yang
memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan
dari hasil pelatihannya sampai satu tingkat lebih tinggi.
Kalau personality dipahami sebagai totalitas manusia
yang unik, maka bakat merupakan salah satu dari
personality itu.
3. Bakat merupakan potensi, dan bukan sesuatu yang sudah betul-betul nyata dengan jelas. Bakat lebihsebagai kemungkinan, yang masih harus diwujudkan. Kita tidak dengan sendirinya mengetahui bakat kita, walau sebenarnya kita memilikinya, dan dapat mewujudkannya ketika kita menggali dan mengembangkannya.
4. Bakat merupakan suatu karakteristik unik individu yang
membuatnya mampu (atau tidak mampu) melakukan
suatu aktivitas dan tugas secara mudah (atau sulit) dan
sukses (atau tidak pernah sukses)
B. Kecerdasan Sebagai Bakat
Jenis kecerdasan:
1. Kecerdasan linguistik
2. Kecerdasan logis-matematis
3. Kecerdasan spasial
4. Kecerdasan musikal
5. Kecerdasan kinestetik-jasmani
6. Kecerdasan antarpribadi
7. Kecerdasan intrapribadi
C. Hal-hal yang mempengaruhi bakat
1. Unsur genetik
2. Latihan
3. Struktur tubuh
D. Pola hubungan Bakat & Kreativitas
1. Anak yang berbakat tetapi tidak kreatif
2. Anak yang berbakat & kreatif
3. Remaja yang kreatif tetapi tidak berbakat
4. Orang dewasa yang kreatif & berbakat
E. Mengembangkan Bakat
1. Perlu mengetahui bakat
a. Untuk mengetahui potensi diri
b. Untuk merencakan masa depan
c. Untuk menentukan tugas atau kegiatan
2. Cara mengembangkan bakat
a. Perlu keberanian
b. Perlu didukung latihan
c. Perlu didukung lingkungan
d. Perlu memahami hambatan-hambatan
pengembangan bakat & cara mengatasinya
Mengembangkan kekuatan dan mengatasi kelemahan
diri sendiri:
1. Introspeksi diri
2. Mengendalikan diri
3. Membangun kepercayaan diri
4. Mengenal dan mengambil inspirasi dari tokoh-
tokoh teladan
5. Berpikir positif & optimis tentang diri sendiri
2.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakat
Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat seseorang tidak dapat mewujudkan bakat-bakatnya secara optimal, dengan kata lain prestasinya di bawah potensinya dapat terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
a.      Anak itu sendiri
Misalnya anak itu tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan  bakat-bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya.
b.     Lingkungan anak
Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan atau ekonominya tinggi tetapi kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anak.
3.     Kendala-Kendala Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa
Mengapa siswa sangat sulit untuk bertindak kreatif? Dalam kenyataannya, seseorang sering menghadapi kendala dalam mengembangkan kreatifitasnya. Dari beberapa sumber kendala tersebut salah satu diantaranya adalah sekolah dan guru. Tanpa disadari oleh guru atau sekolah, sering kita temui beberapa tindakan guru yang bermaksud untuk mengembangkan kreatifitas, namun tindakan yang dilakukan justru membunuh kreatifitas itu sendiri. Misalnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar berupa angka-angka ketimbang proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak menanggapi umpan balik dari siswa tentang proses kegiatan belajar mengajar atau guru senantiasa mengawasi dan khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa contoh lain dari hambatan pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru sering memberikan instruksi yang terlalu detail tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa tidak mampu berkreasi secara bebas.
1. PYGMALION EFFECT
Ketika guru masuk ke dalam kelas, sebenarnya guru telah membawa sebuah sikap yang ditentukan oleh harapan guru tersebut kepada siswanya. Bila guru akan masuk ke dalam kelas yang sebagian besar muridnya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, maka guru cenderung bersemangat dan memiliki harapan yang tinggi pula terhadap anak-anaknya. Sementara ketika akan masuk ke dalam kelas yang mayoritas siswanya terdiri atas siswa yang memiliki kecerdasan rata-rata maka guru pun akan cenderung memiliki harapan yang rendah. Sikap dan harapan ini akan berdampak pada “semangat” dan sikap guru dalam mengajar anak/siswanya.
Dalam istilah motvasi kita mengenal istilah Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Namun sebaliknya, bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya. Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan batin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian secara sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada semua siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.
2. METODE HAFALAN
Sampai saat ini, proses kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih menekankan pada hasil ketimbang proses. Hal ini tentunya bukan hanya masalah guru namun juga sistem pendidikan Indonesia secara umum yang memang menekankan hasil berupa angka ketimbang pemahaman dan kemampuan siswa dalam memaknai ilmu dan informasi yang diperolehnya. Metode seperti ini, dalam metode pendidikan disebut sebagai “metode menghapal mekanis”. Metode ini termasuk metode yang sering dipakai dalam sistem pendidikan tradisional yang mengharapkan supaya pendidikan “back to basic” untuk memberikan ilmu dasar sebagai landasan kuat bagi siswa untuk masuk kedalam masyarakat. Pandangan ini bisa menjadi benar ketika kita berpikir bahwa pendidikan tidak ada gunanya jika tidak berdasarkan pembelajaran bahan pengetahuan dasar. Namun kelemahan dari metode ini adalah bahwa menumpuknya ilmu dalam benak siswa belum tentu akan mampu dieksplor atau dimanfaatkan oleh siswa ketika mereka berhadapan dengan masalah sebenarnya dalam hidup, bahkan bisa jadi masalah apabila proses penumpukan ilmu itu pun dilakukan hanya sebatas ingatan semata. Kreatifitas tidak akan muncul melalui pengumpulan ilmu dan teori namun harus dilatih melalui sebuah proses panjang sampai siswa bisa merasakan sendiri dari manfaat ilmu yang dipelajarinya.
Namun dalam perkembangannya, ditengah-tengah masyarakat muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal mekanis kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.
3. TEKANAN TEMAN SEBAYA
Dalam pertemanan, siswa memiliki masalah yang jauh lebih rumit dari sekedar menghapal sebuah teori atau memahami sebuah rumus. Hampir tidak ada materi pelajaran di kelas yang bisa membekali siswa untuk bisa memahami apa yang mereka alami di lingkungannya. Berbagai macam masalah dan konflik dan permasalahan mengalir begitu deras dalam pergaulan mereka sehari-hari. Berbagai macam karakter guru dan teman terpampang jelas dan menantang di depan wajah mereka.
Lantas dimana guru berperan?Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tekanan itu sangat berdampak dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensi bila tidak berhasil di”manage” secara bijak. Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan. Guru hanya membantu dalam proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Proses penyadaran ini diharapkan melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang membutuhkan kesabaran semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.
4. MENYIKAPI KEGAGALAN
Kegagalan adalah sebuah kenyataan yang sering dialami oleh setiap orang, termasuk Edison sekalipun. Namun yang menjadi pembeda dengan kita, Thomas Alfa Edison menganggap bahwa setiap kegagalannya adalah sebagai sebuah hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Bagi Edison, kegagalan adalah cara dia menemukan sesuatu yang belum benar. Bukan sebagai akhir dari sebuah          proses.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang. Memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut. Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidakmampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha. Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya karena menganggap, tujuan apapun akan gagal karena dirinya tidak mampu.
5. RASA BOSAN YANG MEMUNCAK
Kita menganal Thomas alfa Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak mampu belajar dengan baik disekolahnya. Kita mengenal Einstein yang dikatakan malas oleh gurunya dan dihakimi tidak akan berhasil dalam hidupnya, begitu juga dengan Charles Darwin yang sering dimarahi gurunya karena lebih senang naik pohon dan mengamati makhluk disekitarnya dibandingkan duduk manis di kelas mendengarkan guru yang sedang mengajar. Contoh-contoh didepan merupakan beberapa contoh bagaimana sekolah kurang mampu mengakomodasi berbagai macam bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya. Sekolah sering terjebak pada sebuah anggapan bahwa semua siswa memiliki potensi, bakat , gaya belajar dan tingkat kepandaian yang sama sehingga pada akhirnya diperlakukan dan dilayani dengan metode yang seragam. Penyeragaman ini sangat berpotensi untuk membuat anak merasa jenuh dan terhambat   kreatifitasnya.
Dalam beberapa ulasan banyak diuraikan penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.







1 komentar: