Nama :
Abdul Rohman & Dewi Pujiati
Semester :
VII (Tujuh)
Mata Kuliah :
Character Building
Judul Tugas :
Kemampuan Membina
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Membina diartikan sebagai;
membangun, mendirikan, mengusahakan supaya lebih baik (maju, sempurna).
Pembina adalah orang yang membina, alat untuk membina.
Pembinaan adalah proses pembuatan, cara membina.
Kemampuan membina adalah kemampuan seorang
guru untuk membina dan mengembangkan bakat peserta didiknya.
Menurut Howard Gardner bahwasanya peserta didik memiliki bakat yang
berbeda-beda, Gardner mengelompokan bakat menjaadi 7 kecerdasan:
Lingguistic Intellegence
Logical Matematical Intellegence
Musical Intellegence
Bodily-kinestetic Intellegence
interpersonal Intellegence
Intrapersonal Intellegence (kemampuan mengellola diri, menganggap
dirinya adalah konsep hidupnya)
Naturalist Intellegence
Berdasarkan bakat diatas, maka ada beberapa hal yang harus dibina
oleh seorang guru, antara lain :
Pembinaan menulis, bahasa, presenter, debat, dsb.(linguistic)
Pembinaan matematika, fisika, kimia (logis-matematik)
Paduan suara, musical (musik)
Olahraga, atletik, senam, tari (fisik)
Pembinaan latihan kepemimpinan (interpersonal)
Pembinaan menulis buku harian (Intrapersonal)
Kegiatan pencinta alam (Naturalis)
Melalui pembinaan yang intensif maka bakat siswa berkembang dengan
baik. Agar sukses dalam melakukan pembinaan maka guru Pembina harus memiliki
sifat-sifat sebagai berikut :
1.
Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah orang yang melihat suatu masalah dan memperbaikinnya.
Pemimpin diartikan sebagai orang atau sekelompok orang yang dipercaya dapat
membawa kelompok orang tertentu mencapai tujuan.
2.
Empati
Empati ita bisa turut memahami dan merasakan apa yang dirasakan
orang lain, bisa memasuki hatinya, ketika orang sedang berempati seseorang
mampu berbelas kasih kepada sesamanya.
3.
Komunikasi
Kommunikasi berarti bentuk interaksi antara individu atau kelompok
yang dilakukan dengan cara verbal ataupun non verbal, dengan maksud untuk
menyampaikan suatu pesan dengan cara yang dapat dipahami oleh orang lain.
4.
Disiplin
Disiplin diri mencakup sifat konsisten berjuang mencapai target
yang sudah ditetapkan, mendahulukan hal yang utama dan memdesak tanpa
mengabaikan kebutuhan lain yang juga sama-sama penting.
MENGENAL
DIRI SENDIRI
Mengenal diri berarti:
Memahami kekhasan fisiknya,
kepribadian, watak dan
temperamennya, mengenal bakat-bakat
alamiah yang
dimilikinya serta punya gambaran atau
konsep yang jelas
tentang diri sendiri dengan segala
kekuatan dan
kelemahannya
Manfaat dan tujuan mengenal diri:
Seseorang dapat mengenal kenyataan
dirinya, dan sekaligus
kemungkinan-kemungkinannya, serta
(diharapkan
mengetahui peran apa yang harus dia
mainkan untuk
mewujudkannya
Cara Mengenal Diri:
1. Melalui sejarah perkembangan diri
2. Melalui penelusuran bakat dan
kepribadian
3. Melalui pengalaman sehari-hari
4. Melalui kebersamaan dengan orang
lain
5. Melalui kaca mata orang lain
6.
Melalui refleksi pribadi
Mengenal Bakat
A. Pengertian Bakat
1. Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang
sebagai bawaan sejak lahir. Unsur rohani ini dapat atau
tidak berkembang turut ditentukan oleh keadaan di luar
diri seseorang (lingkungan), & didukung oleh keinginan
kuat yang dimiliki oleh orang itu untuk mengembangkan
atau tidak mengembangkannya.
2. Bakat adalah suatu bentuk kemampuan khusus, yang
memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan
dari hasil pelatihannya sampai satu tingkat lebih tinggi.
Kalau personality dipahami sebagai totalitas manusia
yang unik, maka bakat merupakan salah satu dari
personality itu.
3.
Bakat merupakan potensi, dan bukan sesuatu yang sudah betul-betul nyata dengan
jelas. Bakat lebihsebagai kemungkinan, yang masih harus diwujudkan. Kita tidak
dengan sendirinya mengetahui bakat kita, walau sebenarnya kita memilikinya, dan
dapat mewujudkannya ketika kita menggali dan mengembangkannya.
4. Bakat merupakan suatu karakteristik unik individu yang
membuatnya mampu (atau tidak mampu) melakukan
suatu aktivitas dan tugas secara mudah (atau sulit) dan
sukses (atau tidak pernah sukses)
B. Kecerdasan Sebagai Bakat
Jenis kecerdasan:
1. Kecerdasan linguistik
2. Kecerdasan logis-matematis
3. Kecerdasan spasial
4. Kecerdasan musikal
5. Kecerdasan kinestetik-jasmani
6. Kecerdasan antarpribadi
7. Kecerdasan intrapribadi
C. Hal-hal yang mempengaruhi bakat
1. Unsur genetik
2. Latihan
3. Struktur tubuh
D. Pola hubungan Bakat & Kreativitas
1. Anak yang berbakat tetapi tidak kreatif
2. Anak yang berbakat & kreatif
3. Remaja yang kreatif tetapi tidak berbakat
4. Orang dewasa yang kreatif & berbakat
E. Mengembangkan Bakat
1. Perlu mengetahui bakat
a. Untuk mengetahui potensi diri
b. Untuk merencakan masa depan
c. Untuk menentukan tugas atau kegiatan
2. Cara mengembangkan bakat
a. Perlu keberanian
b. Perlu didukung latihan
c. Perlu didukung lingkungan
d. Perlu memahami hambatan-hambatan
pengembangan bakat & cara mengatasinya
Mengembangkan kekuatan dan mengatasi kelemahan
diri sendiri:
1. Introspeksi diri
2. Mengendalikan diri
3. Membangun kepercayaan diri
4. Mengenal dan mengambil inspirasi dari tokoh-
tokoh teladan
5. Berpikir positif & optimis tentang diri sendiri
2.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakat
Adapun sebab atau faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan bakat seseorang tidak dapat mewujudkan bakat-bakatnya
secara optimal, dengan kata lain prestasinya di bawah potensinya dapat terletak
pada anak itu sendiri dan lingkungan.
a.
Anak itu sendiri
Misalnya anak itu tidak atau kurang berminat untuk
mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk
mencapai prestasi yang tinggi, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau
masalah pribadi sehingga ia mengalami hambatan dalam pengembangan diri dan
berprestasi sesuai dengan bakatnya.
b.
Lingkungan anak
Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan
kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan atau ekonominya tinggi tetapi
kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anak.
3.
Kendala-Kendala Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa
Mengapa siswa
sangat sulit untuk bertindak kreatif? Dalam kenyataannya, seseorang sering
menghadapi kendala dalam mengembangkan kreatifitasnya. Dari beberapa sumber
kendala tersebut salah satu diantaranya adalah sekolah dan guru. Tanpa disadari
oleh guru atau sekolah, sering kita temui beberapa tindakan guru yang bermaksud
untuk mengembangkan kreatifitas, namun tindakan yang dilakukan justru membunuh
kreatifitas itu sendiri. Misalnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar
berupa angka-angka ketimbang proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak
menanggapi umpan balik dari siswa tentang proses kegiatan belajar mengajar atau
guru senantiasa mengawasi dan khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa
contoh lain dari hambatan pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru
sering memberikan instruksi yang terlalu detail tentang apa yang harus
dilakukan oleh siswa sehingga siswa tidak mampu berkreasi secara bebas.
1. PYGMALION
EFFECT
Ketika guru
masuk ke dalam kelas, sebenarnya guru telah membawa sebuah sikap yang
ditentukan oleh harapan guru tersebut kepada siswanya. Bila guru akan masuk ke
dalam kelas yang sebagian besar muridnya memiliki tingkat kecerdasan yang
tinggi, maka guru cenderung bersemangat dan memiliki harapan yang tinggi pula
terhadap anak-anaknya. Sementara ketika akan masuk ke dalam kelas yang
mayoritas siswanya terdiri atas siswa yang memiliki kecerdasan rata-rata maka
guru pun akan cenderung memiliki harapan yang rendah. Sikap dan harapan ini
akan berdampak pada “semangat” dan sikap guru dalam mengajar anak/siswanya.
Dalam istilah motvasi kita mengenal istilah Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Namun sebaliknya, bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya. Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan batin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian secara sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada semua siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.
Dalam istilah motvasi kita mengenal istilah Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Namun sebaliknya, bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya. Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan batin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian secara sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada semua siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.
2. METODE
HAFALAN
Sampai saat
ini, proses kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih menekankan pada hasil
ketimbang proses. Hal ini tentunya bukan hanya masalah guru namun juga sistem
pendidikan Indonesia secara umum yang memang menekankan hasil berupa angka
ketimbang pemahaman dan kemampuan siswa dalam memaknai ilmu dan informasi yang
diperolehnya. Metode seperti ini, dalam metode pendidikan disebut sebagai
“metode menghapal mekanis”. Metode ini termasuk metode yang sering dipakai
dalam sistem pendidikan tradisional yang mengharapkan supaya pendidikan “back
to basic” untuk memberikan ilmu dasar sebagai landasan kuat bagi siswa untuk
masuk kedalam masyarakat. Pandangan ini bisa menjadi benar ketika kita berpikir
bahwa pendidikan tidak ada gunanya jika tidak berdasarkan pembelajaran bahan
pengetahuan dasar. Namun kelemahan dari metode ini adalah bahwa menumpuknya
ilmu dalam benak siswa belum tentu akan mampu dieksplor atau dimanfaatkan oleh
siswa ketika mereka berhadapan dengan masalah sebenarnya dalam hidup, bahkan
bisa jadi masalah apabila proses penumpukan ilmu itu pun dilakukan hanya
sebatas ingatan semata. Kreatifitas tidak akan muncul melalui pengumpulan ilmu
dan teori namun harus dilatih melalui sebuah proses panjang sampai siswa bisa
merasakan sendiri dari manfaat ilmu yang dipelajarinya.
Namun dalam perkembangannya, ditengah-tengah masyarakat muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal mekanis kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.
Namun dalam perkembangannya, ditengah-tengah masyarakat muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal mekanis kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.
3. TEKANAN
TEMAN SEBAYA
Dalam
pertemanan, siswa memiliki masalah yang jauh lebih rumit dari sekedar menghapal
sebuah teori atau memahami sebuah rumus. Hampir tidak ada materi pelajaran di
kelas yang bisa membekali siswa untuk bisa memahami apa yang mereka alami di
lingkungannya. Berbagai macam masalah dan konflik dan permasalahan mengalir
begitu deras dalam pergaulan mereka sehari-hari. Berbagai macam karakter guru
dan teman terpampang jelas dan menantang di depan wajah mereka.
Lantas dimana guru berperan?Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tekanan itu sangat berdampak dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensi bila tidak berhasil di”manage” secara bijak. Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan. Guru hanya membantu dalam proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Proses penyadaran ini diharapkan melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang membutuhkan kesabaran semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.
Lantas dimana guru berperan?Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tekanan itu sangat berdampak dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensi bila tidak berhasil di”manage” secara bijak. Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan. Guru hanya membantu dalam proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Proses penyadaran ini diharapkan melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang membutuhkan kesabaran semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.
4. MENYIKAPI
KEGAGALAN
Kegagalan
adalah sebuah kenyataan yang sering dialami oleh setiap orang, termasuk Edison
sekalipun. Namun yang menjadi pembeda dengan kita, Thomas Alfa Edison menganggap
bahwa setiap kegagalannya adalah sebagai sebuah hasil yang tidak sesuai dengan
harapan. Bagi Edison, kegagalan adalah cara dia menemukan sesuatu yang belum
benar. Bukan sebagai akhir dari sebuah proses.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang. Memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut. Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidakmampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha. Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya karena menganggap, tujuan apapun akan gagal karena dirinya tidak mampu.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang. Memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut. Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidakmampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha. Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya karena menganggap, tujuan apapun akan gagal karena dirinya tidak mampu.
5. RASA BOSAN
YANG MEMUNCAK
Kita menganal
Thomas alfa Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak mampu
belajar dengan baik disekolahnya. Kita mengenal Einstein yang dikatakan malas
oleh gurunya dan dihakimi tidak akan berhasil dalam hidupnya, begitu juga
dengan Charles Darwin yang sering dimarahi gurunya karena lebih senang naik
pohon dan mengamati makhluk disekitarnya dibandingkan duduk manis di kelas
mendengarkan guru yang sedang mengajar. Contoh-contoh didepan merupakan
beberapa contoh bagaimana sekolah kurang mampu mengakomodasi berbagai macam
bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya. Sekolah sering terjebak pada
sebuah anggapan bahwa semua siswa memiliki potensi, bakat , gaya belajar dan
tingkat kepandaian yang sama sehingga pada akhirnya diperlakukan dan dilayani
dengan metode yang seragam. Penyeragaman ini sangat berpotensi untuk membuat anak
merasa jenuh dan terhambat kreatifitasnya.
Dalam beberapa ulasan banyak diuraikan penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.
Dalam beberapa ulasan banyak diuraikan penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.
Bagaimana cara membina anak berkebutuhan khusus?
BalasHapus